MENGINTERPRETASI DRAMA KELAS 8 (MATERI DAN TUGAS), Selasa 24 Maret 2020

PERHATIKAN MATERI MENGENAI DRAMA BERIKUT!

2. Interpretasi Teks Ulasan Film/Drama

Arti kata interpretasi menurut KBBI adalah pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis terhadap sesuatu. Tafsiran atau Interpretasi karya sastra tidak sekadar menafsirkan permukaan karya sastra saja tapi sampai pada kedalaman makna karya sastra tersebut. Untuk itu apabila akan menafsirkan karya sastra harus memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang luas dan mendalam. Pencapaian interpretasi yang optimal bergantung pada kecermatan dan ketajaman penafsir. Karena bahasa merupakan media tanpa batas, maka setiap pembaca akan memiliki interpretasi yang berbeda terhadap karya sastra. Sebagian besar teks sastra bersifat simbolik. Teks cerpen merupakan salah satu teks sastra. Teks cerpen yang bersifat simbolik tidak menyajikan makna melainkan menyajikan fenomena. Untuk itu pembaca diharapkan mampu masuk ke dalam fenomena dalam cerpen yang dibaca. Untuk dapat menyelami fenomena, teks cerpen harus dibaca dengan hati-hati dan terus menerus. Sedangkan, Film adalah lakon atau cerita hidup yang ditayangkan dengan bantuan teknologi, seperti kamera dan animasi. Tokoh di dalam film dapat diperankan oleh orang, benda, atau figur palsu seperti gambar. Film disebut juga dengan sinema.

Maka, interpretasi teks ulasan film/drama adalah kegiatan dengan memberi apresiasi atau pemaknaan terhadap sebuah karya sastra sesuai dengan pikiran atau perasaan yang diperoleh pembaca/penonton terhadap karya tersebut. Kegiatan interpretasi ini dapat pula digunakan untuk mengapresiasi film atau teks sastra lainnya.
Kegiatan interpretasi lebih memfokuskan dan memprioritaskan pada pengkajian bagian-bagian yang paling melekat (organik), unsur-unsur dan simbol-simbol. Untuk itu, menginterpretasi atau menafsirkan drama/film ini sangat diperlukan untuk mengungkapkan makna yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan pengarang.

Contoh Teks Ulasan Film

Salah satu film keluarga yang cukup menarik perhatian di tahun 2011 adalah Tendangan dari Langit karya sutradara terkenal Indonesia, Hanung Bramantyo. Film ini mulai rilis tanggal 26 Agustus 2011 di bioskop-bioskop Indonesia. Film bertema keluarga ini mengangkat kisah tentang seorang anak yang memiliki cita-cita tinggi dalam bidang sepak bola.

Anak laki-laki dengan kecintaannya terhadap sepak bola, Wahyu (Yosie Kristanto) mendapat tentangan dari sang ayah (Sujiwo Tedjo). Kemudian, suatu hari ia menyelamatkan anak-anak Persema di Malang yang pada akhirnya mempertemukan dirinya dengan sang pelatih. Peristiwa itu membawanya untuk melangkah lebih jauh lagi untuk meraih mimpinya menjadi seorang pemain sepak bola yang luar biasa. Sang ayah lambat laun mulai berubah pikiran setelah melihat perjuangan dan kecintaan anaknya pada sepak bola. Akhirnya sang ayah mendukung cita-cita anaknya tersebut.


Film ini menyuguhkan berbagai karakter dengan perkembangannya masing-masing dan bagaimana karakter Wahyu semakin kuat dengan cita-cita dan mimpinya. Selain karakter, latar tempat yang digunakan dalam film ini pun sangat menarik yaitu di sekitaran Gunung Bromo. Selain menceritakan tentang perjuangan seorang anak desa untuk meraih mimpinya, film ini juga seolah memberikan gambaran tentang Bromo yang indah.

Film ini menjadi salah satu film keluarga yang cocok untuk dinikmati bersama keluarga terutama di hari-hari libur. Harapannya semoga semakin banyak film-film dengan tema keluarga yang menggugah semangat setiap anggota keluarga untuk bisa meraih mimpinya dan mempererat hubungan keluarga.

Contoh Interpretasi Isi Teks Ulasan Film

Penulis ulasan menganggap film Tendangan dari Langit ini sebagai film yang dapat menggugah semangat untuk meraih mimpi. Disebutkan bahwa ayah tokoh pertama menentang mimpi sang anak untuk menjadi pemain sepak bola. Namun, lambat laun sikap menentangnya berubah menjadi dukungan karena sang ayah selalu melihat kesungguhan mengejar mimpi anaknya. Hanya saja, memang tidak terdapat kalimat-kalimat yang bersifat kritik dalam tulisannya. Ada dua kemungkinan mengapa tidak ada unsur kritik dalam ulasan penulis di atas. Pertama, film Tendangan dari Langit ini adalah salah satu film yang memang sudah memuaskan dan hampir tidak memiliki kekurangan. Kedua, penulis ulasan tidak melihat dengan jeli bagian-bagian yang sebenarnya menjadi kekurangan dari film tersebut.

Poin Penting

Ada beberapa poin penting yang bisa diambil dari ulasan dan interpretasi ulasan film di atas diantaranya sebagai berikut.
a. Ulasan sebuah film merupakan pendapat pribadi yang dipadukan dengan informasi nyata tentang film tersebut.
b. Ada baiknya berani untuk menyajikan (meskipun hanya satu) kritik yang tujuannya membangun untuk film berikutnya.
c. Interpretasi ulasan film dilakukan dengan melihat dan membaca lebih dalam ulasan yang dibuat oleh penulis sehingga simbol-simbol yang terkandung di dalamnya bisa terlihat dengan jelas.

teater gandrik
LANGKAH-LANGKAH MENYIMPULKAN ISI DRAMA

1. MENGETAHUI DAN MEMAHAMI JUDUL DRAMA

2. MEMAHAMI SELURUH KARAKTER YANG MELEKAT PADA SELURUH TOKOH

3. MEMAHAMI KONFLIK YANG TERJADI PADA SELURUH TOKOH

4. MEMAHAMI PERGUMULAN DAN CARA TOKOH MENGHADAPI KONFLIK YANG DIHADAPINYA

5. MEMAHAMI UNSUR EKSTRINSIK DRAMA SEPERTI KONDISI SOSIAL MASYARAKAT SERTA NILAI-NILAI YANG BERLAKU PADA KELOMPOK MASYARAKAT TEMPAT CERITA DALAM DRAMA DITEMPATKAN

6. MENGHUBUNGKAN SELURUH INFORMASI TERSEBUT MENJADI SATU SIMPULAN ISI DRAMA, TANPA MENGHILANGKAN INTI DRAMA TERSEBUT.


TUGAS!
PERHATIKAN NASKAH DRAMA BERIKUT INI KEMUDIAN KERJAKAN SOAL YANG BERADA DI BAWAH NASKAH!

Tanda Bahaya

Oleh Bakdi Soemanto

Para Pelaku:
Yanti
Asdiarti
Kusni
Surti


Setting:

Ketika sandiwara ini dimulai, di panggung tampak sebuah pelukisan suatu kelas. Ada tiga atau empat meja dan kursi, sebuah meja untuk guru, dan sebuah papan tulis. Letak masing-masing perlengkapan panggung itu ditata rapi sehingga seperti benar-benar kelas. Tampak Yanti seorang pelajar tengah duduk di salah satu meja itu. Ia menekuni sebuah buku pelajaran. Asdianti, sahabatnya masuk. Waktu itu sudah hampir jam satu. Sekolah sudah selesai. Bahwa Yanti belum pulang, itulah yang menyebabkan Asdiarti terkejut.

Asdiarti : ”Kau masih ada di sini Yanti, belum pulang?”
Yanti : (Tidak menjawab. Ia hanya menggeleng dan terus melanjutkan membaca)

Asdiarti : (Mendekati) ”Ada sesuatu?”
Yanti : (Menggeleng)

Asdiarti : ”Aku tidak mengerti sebenarnya persoalanmu, Yanti. Lebih baik kau menyatakan lekuk-liku persoalanmu. Sehingga kalau aku tahu persis persoalannya mungkin aku bisa menolongmu.”
Yanti : ”Aku mengerti, aku memang harus mengatakannya. Tetapi dari mana dan bagaimana aku harus mulai?”

Asdiarti : ”Kenapa?”
Yanti : ”Sangat ruwet.”

Asdiarti : ”Kau dipaksa kawin oleh orang tuamu?”
Yanti : ”Antara lain itu, dan banyak lagi.”

Asdiarti : ”Apa?”
Yanti : ”Ah, sudahlah. Sebaiknya kau tak usah memaksaku mengatakannya. Sulit. Terlalu sulit!”

Asdiarti : ”Yah, aku tahu, kau tidak kerasan di rumah.”
Yanti : (Memandang)

Asdiarti : ”Itu persoalan yang banyak kita rasakan bersama.”
Yanti : ”Kau juga mengalami masalah seperti itu?”

Asdiarti : ”Memang. Cuma persoalanku tidak seberat persoalanmu. Aku selalu menghibur diri dengan cara pergi dengan teman-teman pria kalau hari Minggu ke Kaliurang atau ke mana saja.”
Yanti : ”Dulu aku mencoba demikian, tapi kalau aku pergi, sesudah sampai di rumah, aku mengalami peristiwa yang sama. Bahkan merasa lebih berat maka saya menghentikan cara-cara pelarian seperti itu.”

Asdiarti : ”Tapi kita harus menghibur diri Yanti.”
Yanti : ”Lebih dari itu, aku ingin menyelesaikan persoalan. Cara seperti itu tidak menyelesaikan persoalan itu bahkan menyiksa. Makin menyiksa.”

Asdiarti : ”Lalu, mesti gimana?”
Yanti : ”Aku tak mengerti.”

Asdiarti : ”Tidak mengerti.”
Yanti : ”Itulah yang menyedihkan. Kita mengalami sesuatu, tetapi kita tak mengerti bagaimana memahami pengalaman itu sendiri.”

Asdiarti : (Tersenyum)
Yanti : ”Kau tersenyum? Mengejekku?”

Asdiarti : ”Kau tidak tahu Yanti, bahwa aku sebenarnya gelisah bukan? Aku juga gelisah, nah …”
Yanti : ”Benar. Kupikir kita ini mau apa? Setelah selesai sekolah, lalu kita melanjutkan sekolah lagi. Barangkali hanya satu dua tahun. Paling banter tiga tahun, sudah itu kita dipinang orang. Kita jadi ibu … Apa artinya pelajaran yang kita terima semua ini sekarang?”

Astarti : ”Nah ..” (Tersenyum).
Yanti : ”Kita mempersiapkan diri untuk menjadi sesuatu yang tidak ada artinya.”

Asdiarti : ”Maksudmu?”
Yanti : ”Menjadi istri. Menjadi ibu. Apa artinya? Apa pula hubungannya dengan sekolah yang kita tempuh selama ini?”

Asdiarti : ”Maka kita gelisah, karena sebenarnya kita tidak pernah mengerti nasib kita yang akan datang.”
Yanti : ”Dan persoalan yang kita hadapi itu, tidak bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan yang kita terima di sekolah sekarang ini.”

Asdiarti : ”Kau mau?” (Mengeluarkan sebatang rokok)
Yanti : ”Apa ini?”

Asdiarti : ”Bawalah kalau kau mau. Kau akan mendapat ketenangan.”
Yanti : (Menerima lalu diletakkan di atas meja)

Asdiarti : ”Ambillah. Simpanlah di tasmu jangan sampai kelihatan guru kita.”
Yanti : (Memandang penuh ketidakmengertian)

Asdiarti : ”Kalau kau tak mau, biarlah kusimpan sendiri ini cukup mahal .. (Mengambil rokok itu lalu menyimpannya sendiri kembali) Kau bisa datang ke rumahku kalau mau, nanti Antok, Yusman, Joko pada datang menjemput aku pergi ke …”
Yanti : (Berdiri) ”Pergi ke mana?”

Asdiarti : ”Pergi ke suatu tempat. Pokoknya … sip deh.”
Yanti : ”Aku mendengar dari Ketiek kesenanganmu pergi ke tempat-tempat itu. Itu …”

Asdiarti : ”Berdosa?”
Yanti : ”Bukan.”

Asdiarti : ”Maksiat?”
Yanti : ”Bukan.”

Asdiarti : ”Itulah dunia masa kini.”
Yanti : ”Barangkali benar.”

Asdiarti : ”Nah, akhirnya kau menerima juga.”
Yanti : ”Tapi mengapa harus begitu? Itu berbahaya bagi kesehatan. Kita masih sangat muda, Asdi. Bayangkan kalau masa remaja kita, kita habiskan dengan cara-cara itu, hari tua kita dapat apa? Lagi pula, tujuanmu mencari kebebasan tetapi menempuh jalan itu, apakah sebenarnya kau tidak
membuat dirimu diperbudak kembali oleh kebiasaanmu itu?”

Asdiarti : ”Aku tidak mengerti omonganmu, Yanti, kalau kau tidak mau tak usah bertele-tele menasihatiku.”
Yanti : (Diam)

Asdiarti : ”Baiklah kau pulang tidak? Itu Kusni, Surti menunggu di luar kalau kau tidak pulang, aku pulang duluan … dan kalau kau mau, kutunggu kau nanti sore di rumahku.”
Yanti : (Tidak menjawab cuma memandang)

Asdiarti : (Mengemasi tasnya, siap mau pergi)
Yanti : ”Kenapa kau takut ketahuan guru kita?”

Asdiarti : ”Karena mereka nanti akan marah. Merampas dan menyetrap.”
Yanti : ”Kau tahu penyebabnya?”

Asdiarti : ”Nggak. Mereka orang tua yang kolot. Seperti orang tua kita saja.”
Yanti : ”Itu berbahaya. Obat bius dilarang diedarkan secara bebas.”

Asdiarti : ”Tapi mereka toh tak sanggup menyelesaikan kegelisahanku. Sedikit-sedikit bilang dosa, maksiat, porno, huh!” (Kusni dan Surti masuk)
Kusni : ”Astaga, ngapain, nih kalian di sini? Kutunggu di luar sampai lama banget.”

Asdiarti : ”Mau nolong Yanti. Akibatnya malah dapat kuliah.”
Sarto : ”Pantesan. Habis cita-cita Yanti mau jadi dosen.”

Yanti : ”Aku memperingatkan Asdiarti. Bahaya main-main rokok begituan …”
Surti : ”Sudahlah. Yanti, mari kita pulang saja. Ini sudah jam (Menengok arloji tangannya) … setengah dua. Sebentar lagi kelas ini dipakai anak-anak
sore.”

Yanti : ”Pulanglah dulu kalau kalian mau pulang. Aku butuh belajar … “
Surti : ”Aaaah, kau nunggu Pak Lucas?” (Surti, Asdiarti, Kusni tertawa bersama)

Yanti : ”Pergi!”
Kusni : ”Yanti, aku mencintaimu. Boleh?”

Yanti : (Mengangguk)
Kusni : ”Kenapa kita harus bertengkar. Kita sahabat bukan?”

Yanti : (Merebahkan kepala di meja)
Kusni : ”Sebenarnya kau tak usah melanjutkan hubungan dengan Pak Lucas. Apa sih untungnya. Paling hanya memperoleh nasihat saja. Nasihat tidak akan menyelesaikan persoalanmu. Keuntungannya hanya mual-mual, …”

Yanti : ”Barangkali benar.Tapi aku membutuhkan nasihat-nasihat itu. Aku memerlukan guru yang tidak cuma pandai mengajar, tetapi juga memerhatikan diriku. Aku membutuhkan bimbingan.”
Kusni : ”Tetapi sebagai akibatnya, istrinya menjadi cemburu kepadamu. Bukankah itu merusak rumah tangganya?”

Yanti : ”Aku tahu itulah yang kusedihkan. Tapi aku memang membutuhkan dia ….”
Kusni : ”Memang aku sebenarnya juga.”

Yanti : ”Dulu kuharapkan Bu Sri mau mengerti persoalanku. Tapi ia malah marah melulu.”
Asdiarti : ”Nah, sekolah ini memang konyol …”

Yanti : ”Sekolah ini tidak salah. Kita yang salah. Kita terlalu menuntut banyak …”
Kusni : ”Kita memang membutuhkan sesuatu di sekolah kalau sesuatu yang kita butuhkan tidak kita temukan di rumah.”

Asdiarti : ”Sesuatu itu apa?”
Kusni : ”Aku tak mengerti.”

Asdiarti : ”Barangkali … (Tersenyum) semacam kehangatan.”
Yanti : ”Ya. Tepat!”
Kusni : ”Sukar sekali.”
Yanti : ”Sedih bukan?”

Asdiarti : ”Ya, kehangatan … bukan mimpi-mimpi, bukan pelarian.” (Mengambil rokok
lalu membuang)
Kusni : ”Agar kita kerasan di sekolah. Tapi apa itu mungkin…?”
Yanti : ”Sedih sekali.”

Asdiarti : (Berjalan mau mengambil rokok yang dibuang)
Yanti : ”Biar guru kita mengerti, inilah dunia kita sebenarnya.”

Asdiarti : ”Tapi aku akan dimarahi lagi.”
Yanti : ”Akulah yang akan bilang, bahwa aku yang membawa rokok itu.”

Asdiarti : ”Yanti!”
Yanti : ”Aku mau tahu, setelah marah-marah guru-guru kita lalu berbuat apa kepada kita.”
Kusni : ”Aku akan ikut dimarahi,Yanti. Ayo ambil Asdi!”

Yanti : ”Jangan!”
Sarto : ”Kau jangan aneh-aneh Yanti. Kalau kita dikeluarkan bagaimana … ?”

Yanti : ”Percayalah guru-guru kita perlu mengerti apa yang kita pikirkan, kita butuhkan setiap hari … agar mereka tidak sekadar menempa kita dengan rumus-rumus yang harus dihafal melulu …” (Yanti pergi, yang lain menatap terus mengikuti perginya. Tinggal Asdi. Lalu Asdiarti mengambil rokok itu mengikuti mereka. Sebelum off stage, Asdiarti membalik lagi melemparkan rokok itu ke kelas lagi dan lari sambil berteriak)
Asdiarti : ”Yanti, Yanti tunggu …”

SOAL

interpretasikan naskah drama di atas minimal satu halaman kertas, kemudian hias sebagus mungkin. kirimkan foto selfi kalian dengan tugas dan foto tugasnya kirim ke 0895621990978. Batas waktu pengumpulan tugas sampai pukul 12.00 WIB, apabila tidak mengerjakan akan dianggap tidak hadir dan akan mendapat konsekuensi berupa hukuman saat masuk sekolah,,,,



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisi Kisi Soal UH Bab 5 Puisi Rakyat, Kamis 23 Januari 2020

MATERI DAN TUGAS DARING KELAS 7, SENIN 18 MEI 2020

DARING KELAS 8A, SELASA 12 MEI 2020